Mengapa Pedagang di Trotoar Disebut Pedagang Kaki Lima?

 Mengapa Pedagang di Trotoar Disebut Pedagang Kaki Lima?
Ilustrasi/misterpaper.com
Asal usul istilah “pedagang kaki lima” bisa dirunut ke masa lampau, ketika Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1811-1816) masih menjadi penguasa Batavia (sekarang Jakarta). Pada waktu itu, Gubernur Raffles memerintahkan beberapa pemilik gedung di jalanan utama Batavia untuk menyediakan trotoar selebar lima kaki (five foot way) untuk para pejalan kaki.

Istilah “five foot way” itu kemudian mengalami kekeliruan penerjemahan. “Five foot” disalahartikan sebagai kata majemuk.

Ketika menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu, orang membalikkan hukum MD (menerangkan-diterangkan) dalam bahasa Inggris menjadi hukum DM (diterangkan-menerangkan) dalam bahasa Melayu, sehingga terjemahannya bukan “lima kaki”, tapi “kaki lima”.

Meski trotoar seluas “lima kaki” itu sebenarnya ditujukan untuk para pejalan kaki, namun dalam praktiknya kemudian dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan. Dari situlah kemudian para pedagang yang menggunakan trotoar untuk berjualan disebut “pedagang kaki lima”.

Dari Batavia, istilah itu sampai ke Medan, lalu terus menyebar ke kota-kota dan wilayah lain di Indonesia, dan tetap digunakan sampai sekarang.

Hmm… ada yang mau menambahkan?


Related

Umum 1173411443465858477

Posting Komentar

emo-but-icon

Recent

Banyak Dibaca

item